Skip to main content

Posts

Recent posts

Memaknai Museum

Tidak ada habisnya bila kita membahas tentang museum. Sejarahnya, koleksinya, keunikannya. Itulah mengapa, pada banyak kesempatan, kita telah, dan masih akan terus mengekslporasinya. Tetapi, tulisan kali ini dibuat secara khusus untuk mengapresiasi geliat permuseuman di tengah pesatnya kemajuan zaman, semakin banyaknya pilihan hiburan bagi masyarakat, juga menurunnya minat generasi muda secara umum akan sejarah, sains, serta wisata yang berkaitan dengannya. Hari ini saat informasi dan pengetahuan hanya sejauh genggaman tangan, museum sebagai sarana belajar pun melakukan penyesuaian. Tur virtual, website resmi, akun media sosial, dan beragam kegiatan yang dapat diakses secara daring merupakan segelintir penyesuaian itu. Di sisi lain, museum juga tetap mengerahkan aneka upaya yang diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pengunjung luring. Mulai dari melakukan penambahan dan perawatan koleksi, peningkatan kualitas layanan pengunjung, penyediaan fasilitas penunjang bagi pengunjung difab...

Learning at the First Sight: (masih tentang) Museum Gumuk Pasir

Selepas merasakan pengalaman mandi di mata air yang dipanaskan dengan lahar gunung purbakala, Parang Wedang, kami menyantap perbekalan di tempat duduk di depan sebuah mini market. Kami pilih jam kunjungan pukul 13.00, yakni setelah jam makan siang staff , sehingga masih ada cukup waktu sebelum jam operasional museum berakhir, dan kami tidak harus berkeliling dengan terburu-buru seperti di Museum Nasional Jakarta waktu itu. Ini kami rancang (seperti kujelaskan dalam tulisan sebelumnya) agar kami berdua yang memiliki waktu temu amat langka, betul-betul puas dengan " plesir pesisir " hari ini. It was so astounding .   Dengan hangat kami berdua dipandu menjelajah museum ini. Sebelum masuk, tentunya protokol yang ketat harus kami penuhi. Sempat suhu tubuhku terdeteksi terlalu tinggi, tapi rupanya itu hanya karena paparan panas pesisir selatan yang butuh beberapa menit berteduh saja untuk hilang >.< Hasil pengecekan suhu ulang membuktikannya. Kami kemudian menuju pintu setela...

A Holiday Well Spent: Wisata Alternatif Anti-mainstream Museum Gumuk Pasir di Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP)

Sebagai warga Jogja yang berkelimpahan tempat wisata, jujur saya dan pasangan tidak habis pikir. Belakangan ini, setiap mendekati akhir pekan, kami tidak juga bisa memutuskan akan ke mana. Berjam-jam browsing, objek-objek wisata baru bermunculan dalam hasil pencarian, tetapi rasanya begitu-begitu saja. Pada akhirnya, kami gagal main. Akhir pekan hanya dihabiskan dengan malas-malasan: pesan antar makanan lewat aplikasi, lalu menonton sebanyak-banyaknya film maupun serial yang ada di on demand streaming services. Sekarang sejak kami tidak lagi tinggal di satu kota, pola baru ini cukup bikin saya kesal karena kurang mendorong waktu berkualitas. Jadi, pada suatu hari saya putuskan untuk browsing dengan keywords yang berbeda dari biasanya dan ketemulah sebuah pencerahan: satu daftar panjang museum-museum di Jogja. Mendekati hari cuti pasangan saya, kami jadi punya semangat baru. Bersama-sama, kami putuskan museum-museum mana yang ingin mulai kami kunjungi. Supaya simple , tujuan wisata kami...

Tokyo Sonata dan Harapan Banyak di Antara Kita

Pengalaman menonton kehidupan keluarga-keluarga kelas menengah di pedesaan hingga jantung-jantung kota Jepang melalui film, hampir selalu diikuti dengan diam. Diam yang sekaligus juga sibuk, dengan menit-menit saat kepala mencoba merangkum kata-kata yang membludak, sebelum bisa memberi nama bagi satu-persatu perasaan yang tertinggal. Tidak heran film-film macam ini laris manis digunakan sebagai bahan diskusi. Konflik internal para tokoh; interseksi dari setiap konflik; interaksi para tokoh; periode sejarah; situasi sosial-ekonomi-politik; hingga banyak aspek budaya dan peradaban masyarakat di latar belakang cerita yang tergambar dalam beragam detil film, adalah beberapa di antara poin-poin yang layak disorot. Tapi ini bukan resensi. Ini bukan pula draf materi diskusi. Ini tentang satu saja di antara poin-poin yang banyak itu, dari sebuah film yang awalnya kutonton sebagai tugas dari Pak Usmar dalam kelas Politik, Sosial, dan Budaya Jepang beberapa semester lalu. Tokyo Sonata, jud...