Pengalaman menonton kehidupan keluarga-keluarga kelas menengah di pedesaan hingga jantung-jantung kota Jepang melalui film, hampir selalu diikuti dengan diam. Diam yang sekaligus juga sibuk, dengan menit-menit saat kepala mencoba merangkum kata-kata yang membludak, sebelum bisa memberi nama bagi satu-persatu perasaan yang tertinggal. Tidak heran film-film macam ini laris manis digunakan sebagai bahan diskusi. Konflik internal para tokoh; interseksi dari setiap konflik; interaksi para tokoh; periode sejarah; situasi sosial-ekonomi-politik; hingga banyak aspek budaya dan peradaban masyarakat di latar belakang cerita yang tergambar dalam beragam detil film, adalah beberapa di antara poin-poin yang layak disorot. Tapi ini bukan resensi. Ini bukan pula draf materi diskusi. Ini tentang satu saja di antara poin-poin yang banyak itu, dari sebuah film yang awalnya kutonton sebagai tugas dari Pak Usmar dalam kelas Politik, Sosial, dan Budaya Jepang beberapa semester lalu. Tokyo Sonata, jud...
featuring all the things that make me human. because every breath is full of love and learning.