Pengalaman menonton kehidupan keluarga-keluarga kelas menengah di pedesaan hingga jantung-jantung kota Jepang melalui film, hampir selalu diikuti dengan diam. Diam yang sekaligus juga sibuk, dengan menit-menit saat kepala mencoba merangkum kata-kata yang membludak, sebelum bisa memberi nama bagi satu-persatu perasaan yang tertinggal. Tidak heran film-film macam ini laris manis digunakan sebagai bahan diskusi. Konflik internal para tokoh; interseksi dari setiap konflik; interaksi para tokoh; periode sejarah; situasi sosial-ekonomi-politik; hingga banyak aspek budaya dan peradaban masyarakat di latar belakang cerita yang tergambar dalam beragam detil film, adalah beberapa di antara poin-poin yang layak disorot.
Tapi ini bukan resensi. Ini bukan pula draf materi diskusi. Ini tentang satu saja di antara poin-poin yang banyak itu, dari sebuah film yang awalnya kutonton sebagai tugas dari Pak Usmar dalam kelas Politik, Sosial, dan Budaya Jepang beberapa semester lalu. Tokyo Sonata, judulnya.
Ini tentang sebuah benang merah yang kutarik dalam diam yang sibuk, setelah menonton cerita keluarga pegawai swasta di Tokyo yang baru saja di-PHK: hasrat yang sama dari para tokoh untuk memulai kembali kehidupannya dari awal. Aspirasi untuk memulai kembali muncul sebagai klimaks dari masing-masing proses personal tokoh, manusia-manusia dari beragam tingkat pendidikan, kepribadian, status sosial, dan gender.
Aspirasi ini terasa relatable, karena mungkin semua manusia punya kesialannya masing-masing yang membuatnya, pada satu titik, mengharapkan adanya sebuah reset button. Beberapa orang membutuhkan reset button itu lebih dari orang lain sampai di tahap ketika mereka tidak bisa menemukannya dalam setiap tawaran solusi, atau saking lelahnya mencari tawaran solusi apa pun, mereka terpaksa mati. Terpaksa, sebab tentu mereka pun sebenarnya ingin hidup. Hanya saja, tanpa satu reset button yang akan menyederhanakan kerumitan hidupnya, di depan mata hanya tampak rangkaian penderitaan atau kekosongan. Perasaan sekedar menerima dan menjalani tanpa punya kendali. Jika bisa, mungkin semua akan menekan reset button-nya: memulai kembali kehidupannya dengan identitas baru, lingkungan baru, dan kebermaknaan baru.
Ada jalinan kusut sistem dan budaya yang menindas di balik aspirasi yang terasa manusiawi dan relatable tadi. Menindas karena para tokoh tidak melihat ampun padanya, atau bahkan tidak melihatnya sebagai masalah sama sekali. Pesimisme meliputi kemungkinan bahwa permasalahan-permasalahan hidup mereka yang berkaitan erat dengan sistem dapat diselesaikan, atau sekadar dinegosiasikan. Maka semua sibuk mencari cara untuk bertahan dalam sistem dan keteraturan yang ditopang dalam budayanya, dalam cara hidupnya yang biasa, dalam cara hidup semua orang yang dikenalnya, semua orang di sekitarnya. Masing-masing melihat dengan teropong yang terbalik sehingga sistem dan budaya yang menindas tadi tersaru dengan gambaran besar kesialannya sebagai manusia: kekurangan finansialnya, usianya, lingkungannya, fisiknya, atau apa saja.
Masing-masing terlalu sibuk hingga tak sempat bertanya-tanya, bukankah mungkin akan lebih sedikit orang yang membutuhkan reset button bila seluruh kelangsungan hidup tidak harus digantungkan pada satu pekerjaan? Mungkin bila belajar tidak harus mahal? Mungkin bila tetangga serta kerabat lebih saling empati? Mungkin bila tugas dan hak dibagi dengan lebih adil di rumah? Mungkin bila kita diajari untuk lebih gemar membuat daripada membeli?
Seperti tokoh-tokoh dalam film itu, banyak di antara kita yang kelelahan dan ingin memulai kehidupan baru. Namun, seperti tokoh-tokoh dalam film itu, mungkin kesadaran seseorang akan posisinya dalam sistem akan menyederhanakan harapan-harapannya. Sehingga reset button yang diperlukan seseorang hanyalah sesederhana melepas satu hari yang buruk untuk memaknainya sebelum matahari pagi berikutnya menyingsing.
Tapi ini bukan resensi. Ini bukan pula draf materi diskusi. Ini tentang satu saja di antara poin-poin yang banyak itu, dari sebuah film yang awalnya kutonton sebagai tugas dari Pak Usmar dalam kelas Politik, Sosial, dan Budaya Jepang beberapa semester lalu. Tokyo Sonata, judulnya.
Ini tentang sebuah benang merah yang kutarik dalam diam yang sibuk, setelah menonton cerita keluarga pegawai swasta di Tokyo yang baru saja di-PHK: hasrat yang sama dari para tokoh untuk memulai kembali kehidupannya dari awal. Aspirasi untuk memulai kembali muncul sebagai klimaks dari masing-masing proses personal tokoh, manusia-manusia dari beragam tingkat pendidikan, kepribadian, status sosial, dan gender.
Aspirasi ini terasa relatable, karena mungkin semua manusia punya kesialannya masing-masing yang membuatnya, pada satu titik, mengharapkan adanya sebuah reset button. Beberapa orang membutuhkan reset button itu lebih dari orang lain sampai di tahap ketika mereka tidak bisa menemukannya dalam setiap tawaran solusi, atau saking lelahnya mencari tawaran solusi apa pun, mereka terpaksa mati. Terpaksa, sebab tentu mereka pun sebenarnya ingin hidup. Hanya saja, tanpa satu reset button yang akan menyederhanakan kerumitan hidupnya, di depan mata hanya tampak rangkaian penderitaan atau kekosongan. Perasaan sekedar menerima dan menjalani tanpa punya kendali. Jika bisa, mungkin semua akan menekan reset button-nya: memulai kembali kehidupannya dengan identitas baru, lingkungan baru, dan kebermaknaan baru.
Ada jalinan kusut sistem dan budaya yang menindas di balik aspirasi yang terasa manusiawi dan relatable tadi. Menindas karena para tokoh tidak melihat ampun padanya, atau bahkan tidak melihatnya sebagai masalah sama sekali. Pesimisme meliputi kemungkinan bahwa permasalahan-permasalahan hidup mereka yang berkaitan erat dengan sistem dapat diselesaikan, atau sekadar dinegosiasikan. Maka semua sibuk mencari cara untuk bertahan dalam sistem dan keteraturan yang ditopang dalam budayanya, dalam cara hidupnya yang biasa, dalam cara hidup semua orang yang dikenalnya, semua orang di sekitarnya. Masing-masing melihat dengan teropong yang terbalik sehingga sistem dan budaya yang menindas tadi tersaru dengan gambaran besar kesialannya sebagai manusia: kekurangan finansialnya, usianya, lingkungannya, fisiknya, atau apa saja.
Masing-masing terlalu sibuk hingga tak sempat bertanya-tanya, bukankah mungkin akan lebih sedikit orang yang membutuhkan reset button bila seluruh kelangsungan hidup tidak harus digantungkan pada satu pekerjaan? Mungkin bila belajar tidak harus mahal? Mungkin bila tetangga serta kerabat lebih saling empati? Mungkin bila tugas dan hak dibagi dengan lebih adil di rumah? Mungkin bila kita diajari untuk lebih gemar membuat daripada membeli?
Seperti tokoh-tokoh dalam film itu, banyak di antara kita yang kelelahan dan ingin memulai kehidupan baru. Namun, seperti tokoh-tokoh dalam film itu, mungkin kesadaran seseorang akan posisinya dalam sistem akan menyederhanakan harapan-harapannya. Sehingga reset button yang diperlukan seseorang hanyalah sesederhana melepas satu hari yang buruk untuk memaknainya sebelum matahari pagi berikutnya menyingsing.