Skip to main content

Memaknai Museum

Tidak ada habisnya bila kita membahas tentang museum. Sejarahnya, koleksinya, keunikannya. Itulah mengapa, pada banyak kesempatan, kita telah, dan masih akan terus mengekslporasinya. Tetapi, tulisan kali ini dibuat secara khusus untuk mengapresiasi geliat permuseuman di tengah pesatnya kemajuan zaman, semakin banyaknya pilihan hiburan bagi masyarakat, juga menurunnya minat generasi muda secara umum akan sejarah, sains, serta wisata yang berkaitan dengannya.

Hari ini saat informasi dan pengetahuan hanya sejauh genggaman tangan, museum sebagai sarana belajar pun melakukan penyesuaian. Tur virtual, website resmi, akun media sosial, dan beragam kegiatan yang dapat diakses secara daring merupakan segelintir penyesuaian itu.

Di sisi lain, museum juga tetap mengerahkan aneka upaya yang diharapkan mampu meningkatkan kepuasan pengunjung luring. Mulai dari melakukan penambahan dan perawatan koleksi, peningkatan kualitas layanan pengunjung, penyediaan fasilitas penunjang bagi pengunjung difabel, penambahan area interaktif, kerja sama dengan berbagai pihak untuk mempromosikan kunjungan, serta yang tak kalah lazim dilakukan, pemugaran bangunan. Beberapa museum bahkan telah mengalami revitalisasi, ekspansi bangunan secara bertahap, bahkan relokasi.

Tidak hanya sebagai alternatif rekreasi, berkunjung ke museum baik dari kategori sejarah, seni, maupun sains dan teknologi adalah sebuah penghargaan atas proses sakral belajar-mengajar. Melestarikan tradisi di mana ilmu didapatkan dengan secara sadar menuntutnya. Dewasa ini, saat semua berlomba-lomba untuk berbicara melalui segala media yang ada dan kita bagai kehilangan kendali atas informasi apa yang kita konsumsi, museum bagaikan oase yang mengundang. Sebab, pada setiap kunjungan, apa pun museumnya, setidaknya ada satu kesamaannya: ia selalu berkisah tentang apa-apa dan siapa-siapa yang tak bisa menyuarakannya. Tokoh-tokoh, bentang alam, peristiwa-peristiwa, penemuan-penemuan, buah-buah proses panjang pembangunan peradaban. Memasuki museum sama halnya dengan memiliki kedaulatan atas proses belajar dan menyerap informasi tadi. Dengan sadar dan suka rela, kita memilih, mendatangi, menyimak, mengapresiasi, dan memetik hikmah.

Seperti cinta kita pada sesama manusia, kecintaan terhadap museum dapat jatuh pada pandangan pertama, dapat pula ditumbuhkan seiring proses perkenalan dan pendewasaan. Yang dibutuhkan pertama-tama, adalah sebuah pertemuan. Apa pun bentuknya. Sebuah kesempatan untuk dirinya memperkenalkan.