Selepas merasakan pengalaman mandi di mata air yang dipanaskan dengan lahar gunung purbakala, Parang Wedang, kami menyantap perbekalan di tempat duduk di depan sebuah mini market. Kami pilih jam kunjungan pukul 13.00, yakni setelah jam makan siang staff, sehingga masih ada cukup waktu sebelum jam operasional museum berakhir, dan kami tidak harus berkeliling dengan terburu-buru seperti di Museum Nasional Jakarta waktu itu. Ini kami rancang (seperti kujelaskan dalam tulisan sebelumnya) agar kami berdua yang memiliki waktu temu amat langka, betul-betul puas dengan "plesir pesisir" hari ini.
It was so astounding.
Dengan hangat kami berdua dipandu menjelajah museum ini. Sebelum masuk, tentunya protokol yang ketat harus kami penuhi. Sempat suhu tubuhku terdeteksi terlalu tinggi, tapi rupanya itu hanya karena paparan panas pesisir selatan yang butuh beberapa menit berteduh saja untuk hilang >.< Hasil pengecekan suhu ulang membuktikannya. Kami kemudian menuju pintu setelah mencuci tangan di tempat yang telah disediakan. Di depan pintu, kami sudah disambut dengan pengetahuan: learning at the first sight. Rupanya bentuk bangunan museum dirancang untuk merepresentasikan proses terbentuknya Gumuk Pasir. Dari bangunan kerucut yang mewakili Gunung Merapi, si penyuplai material; Lorong pengetahuan yang mewakili sungai Opak dan Progo, pengantar material ke estuary; dan Gedung Lengkung yang mewakili Gumuk Pasir parangtritis yang dibawa ke tepian oleh ombak pantai, dijemur di bawah terik pantai, dan digundukkan oleh angin tenggara yang dibelokkan oleh pegunungan karst Barat Parangtritis sehingga berbentuk sangat unik, yakni barchan tropika basah.
Memasuki lantai pertama bangunan museum, kami langsung diarahkan ke ruang teater untuk menonton video edukasi tentang keunikan pesisir Bantul, khususnya Gumuk Pasir Parangtritis. Rupanya ada beberapa video yang dipilihkan sesuai dengan rentang usia pengunjung. Kali ini kami dipilihkan video dengan dosen-dosen Fakultas Geografi UGM sebagai pembicaranya. Di akhir video, setelah lampu kembali dinyalakan, kami diajak untuk bertanya jawab dan karena Kiki dapat menjelaskan dengan sederhana proses pembentukan Gumuk Pasir, pemandu memberinya buah tangan berupa stiker dari museum (:
Kami menjelajah beberapa zona yang masih dapat diakses selama pandemi ini. Selepas dari museum, perjalanan kami lanjutkan ke bekas rumah singgah dan Monumen Perjuangan Jenderal Besar Sudirman, dan ditutup dengan pemandangan laut lepas dan mata hari terbenam di Bukit Paralayang, sebelah Barat Pantai Parangtritis.
More details to come in my next posts. Stay tuned and stay kind!
xo
Fira